Jakarta, 25 Maret 2020 – Kontak Bisnis Hortikultura Indonesia melakukan diskusi untuk mengatasi berbagai permasalahan dalam ekspor produk hortikultura Indonesia selama pandemi COVID-19. Salah satu permasalahan utama yang dihadapi adalah infrastruktur yang belum memadai, terutama terkait dengan tidak adanya pesawat kargo di Indonesia serta biaya pengangkutan yang tinggi. Selain itu, masih terdapat kendala dalam pengiriman produk lokal karena biaya transportasi udara yang mahal dan kurangnya penggunaan teknologi dan sistem produksi yang masih kurang memadai.

Untuk menangani permasalahan ini, anggota kontak bisnis hortikultura Indonesia sepakat untuk bekerjasama dengan operator teknologi paska panen yang dapat membantu dalam penanganan pasca panen untuk memperpanjang umur produk dan menyediakan sarana transportasi yang mendukung. Dalam hal ini, diperlukan koordinasi dengan asosiasi untuk memperjelas sasarannya dan kebutuhannya, serta bantuan yang tepat guna.

Selain itu, permasalahan lain yang dihadapi adalah pembayaran oleh pihak buyer serta kurangnya akses pasar dan database buyer luar negeri. Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan bantuan sarana dan teknologi yang mendukung serta perluasan akses pasar dan referensi database buyer luar negeri. Selain itu, diperlukan pembinaan terkait legalitas perusahaan, sertifikasi organik Indonesia, dan sarana prasarana budidaya dan pasca panen yang memadai.

Dalam pasca panen, terdapat masalah terkait dengan penanganan buah manggis yang belum optimal, serta kurangnya alat pengolah seperti alat pembuat keripik salak atau manisan. Dalam hal ini, diperlukan teknologi pasca panen yang dapat memperpanjang umur produk serta bantuan alat pengolah yang sesuai sasaran dan tepat guna.

Berdasarkan permasalahan yang dihadapi dalam ekspor produk hortikultura Indonesia, pemerintah dapat melakukan beberapa rekomendasi kebijakan seperti meningkatkan infrastruktur investasi yang mendukung ekspor produk hortikultura, mendorong penggunaan teknologi dan sistem produksi yang modern dan efektif, meningkatkan akses pasar dan database pembeli di luar negeri, meningkatkan jaminan pembiayaan untuk petani dan pengusaha hortikultura, meningkatkan koordinasi dengan asosiasi, dan meningkatkan pembinaan terkait legalitas perusahaan, sertifikasi organik Indonesia, dan sarana prasarana budidaya dan pasca panen yang mencukupi.

Dengan mengatasi permasalahan-permasalahan ini, diharapkan ekspor produk hortikultura Indonesia dapat meningkat dan bersaing di pasar internasional serta memberikan